Minggu, 30 Oktober 2011

Nikmatilah Cinta Kasih itu selagi Masih ada dan Nyata


Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar BERSYUKUR untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku untuk BERDOA meskipun kini kulakukan dengan tulus.,. Aku BERDOA karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada BAPA karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahkan-NYA padaku., meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. MENDEKAT kepada-NYA hanya iyu yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta BAPA padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak.., Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku.AKU MENGHABISKAN SEPULUH TAHUN UNTUK MEMBENCINYA., TETAPI MENGHABISKAN HAMPIR SEPANJANG SISA HIDUPKU UNTUK MENCINTAINYA.
AKU BEBAS DARINYA KARENA KEMATIAN.,TAPI AKU TAK PERNAH BISA BEBAS DARI CINTA YANG TERAMAT TULUS UNTUKKU.,

Jumat, 28 Oktober 2011

Budaya Megalitikum Hanya di Nias Selatan



Akhir Maret 2011, saya mengunjungi Desa Bawömataluo, Kecamatan Fanayama, desa yang penuh dengan karya megalitik suku Nias. Desa yang masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Nias Selatan ini memberi rasa kagum yang tidak kalah unik dibanding dengan kawasan wisata budaya lainnya, misalnya Borobudur dan kawasan wisata budaya lainnya di Indonesia yang pernah saya kunjungi.
Great! Itulah kata dalam bahasa Inggris penilaian saya bagi Desa yang terletak di atas perbukitan dengan ketinggian 250 meter di atas permukaan laut itu.  Tentu pengamatan sepintas ini tidak akan membahas banyak tentang sejarah dan kisah masa lalu lokasi ini.

Masuk dari Sorake
Kami memasuki Bawömataluo setelah sebelumnya mengunjungi Pantai Sorake dan Lagundri—dua lokasi yang membawa Nias sampai ke seluruh penjuru dunia, bahkan sebelum tsunami terjadi.
Dari Sorake, dengan mobil carteran L-300 dari Gunungsitoli, kami menuju Bawömatoluo melintasi jalan hotmix ke arah Teluk Dalam. Tiba di sebuah petigaan, kami menemukan plang petunjuk arah, lurus ke Teluk Dalam dan belok kiri ke Bawömataluo.
Setelah sekitar 20 menit, kami pun sampai. Kami memarkir mobil di sebuah lokasi di sana, persis di samping sebuah tembok tinggi, di sebelah tangga menuju Desa Bawömataluo. Begitu turun dari mobil, beberapa laki-laki yang masih berusia remaja mendatangi  kami menawarkan jasanya. Salah seorang laki-laki menegor dengan ramah. “Pak, mari saya tuntun ke atas,” ujarnya, meski saya didampingi teman yang paham lokasi itu dan suaminya berasal dari Bawömataluo.
Kami menerima dengan baik bantuan mereka. Saya kagum atas semangat anak-anak ini. Mereka bangga menjelaskan keagungan desanya, meski tidak jelas berapa kami harus membayar mereka. “TST saja, tau sama tau,” mungkin demikianlah di benak mereka.

Sebuah Misteri
Sebelum mendaki tangga, kami membeli minuman atau makanan ringan yang tersedia di sebuah kios di Bawagöli untuk bekal.  Saat menuju kios itu, Ketjel Zagötö berujar, “Kita harus mendaki ke atas,” sambil menunjuk ke arah tangga berkemiringan 45 derajat.
Mencapai Desa Bawömataluo, dari dasar perbukitan Desa Bawagöli kami harus berjalan kaki menaiki 86 anak tangga yang terbuat dari batu. Saya tidak tau persis berapa ketinggian tangga itu, tetapi saya perkirakan lebih dari 15 meter.


Masyarakat sedang antre mengambil air di salah satu Sudut Desa Bawömataluo.
Lantas, kami memulai pendakian ke puncak tangga. Sebuah keasyikan tersendiri! Serasa olahraga menyegarkan setelah penat naik mobil sejak pagi hari dari Gunungsitoli dan berputar-putar di sekitar Teluk Dalam, Sorake, dan Lagundri.
Saya bergurau kepada teman saya, Ketjel, ”Mendaki tangga ini layaknya menikmati keindahan alam dan mengungkap misteri!” Sang teman itu pun tertawa. “Ada-ada saja Abang ini,” katanya.
Saya sebenarnya bukan bergurai. Dalam pendakian itu, beberapa kali saya berhenti sambil melihat ke belakang. Di belakangku terbentang pemandangan desa di bawah tangga dan pemandangan Pantai Sorake dan kehijauan pepohonan yang menakjubkan, sementara di depanku sebuah misteri. Rasa ingin tahu yang besar seperti apa gerangan perkampungan Bawömataluo yang kesohor itu!

Kembali ke Alam Megalitik


Setelah mencapai tangga ke-86 atau tangga terakhir, saya berdiri sejenak. Meski beberapa penjaja suvenir yang ramah yang mendekati kami, perhatian saya tetap pada misteri yang ada di hati. Menikmati indahnya pemandangan yang terhampar di depan mata ratusan meter ke depan.


Pemandangan Desa Bawömataluo
Memasuki perkampungan Bawömataluo, yang dalam bahasa Nias berarti Bukit Matahari, adalah berada di sebuah wilayah masa megalitik yang masih terpelihara hingga saat ini.
Tampak di atas hamparan lahan yang luas dan rata berdiri rumah-rumah penduduk yang saling berhadapan. Bawömataluo, yang menurut Hikayat Manaö, pemuka adat setempat, berpenduduk sekitar 1.200 kepala keluarga itu berdiri megah di atas lahan seluas 5 hektar dan berada di perbukitan dengan ketinggian 250 meter di atas permukaan laut.
Saya menyaksikan di sebelah kiri deretan rumah penduduk dan sebuah rumah raja (Omo Sebua) yang atapnya terlihat menjulang tinggi. Sementara di sebelah kanan, berjejer rumah adat penduduk desa (Omo Hada) dan sebuah balai desa, tempat musyawarah bagi warga Desa Bawömataluo.
Beberapa referensi mengatakan jumlah rumah-rumah itu sekitar 250-300 buah. Jalan yang membatasi deretan rumah tersusun rapi oleh bebatuan, berbeda dengan kampung yang biasanya tertutup dengan tanah.
Melangkahkan kaki beberapa meter ke depan, di sebelah kanan tampak sebuah meriam yang dibuat pada zaman Belanda, letaknya di depan balai musyawarah warga Desa Bawömataluo. Di sebelah meriam tersebut terletak beberapa batu berwarna hitam dengan panjang masing-masing kurang lebih 10 meter.
Ratusan rumah adat yang masih terpelihara keasliannya berjejer rapi, layaknya sebuah kota kecil di atas bukit. Bedanya, di kampung ini tidak ada mobil atau kenderaan bermotor, karena mencapai desa itu harus melalui tangga.
Jalan kaki sambil melirik keunikan di kiri kanan, rasa senang tak terlukiskan saat saya mendekati sebuah batu dengan ukuran panjang sekitar 90 sentimeter, lebar 60 sentimeter, dan tinggi mencapai 2 meter. Sebuah arena lompat batu atau oleh masyarakat setempat disebut Hombo Batu—olahraga yang sudah berusia ratusan tahun.
Bagi saya, orang yang berada di luar Nias, Hombo Batu inilah wisata populer dari Desa Bawömatoluo, di samping rumah-rumah adat dan peninggalan megalitik yang lain.
Hombo Batu menunjukkan betapa Nias memiliki seleksi yang luar biasa untuk meloloskan para prajurit perangnya. “Siapa yang mampu melompat dan melewati batu, boleh menjadi prajurit, ikut perang,” ujar Hikayat Manaö, pria berusia 52 tahun dan salah seorang pelompat batu di masa mudanya. Menurut dia, bagi masyarakat Desa Bawömataluo, suatu kebanggaan dan kehormatan jika berhasil melompati batu tersebut.
Sayangnya, saat itu tidak ada acara lompat batu. Sehingga tidak menyaksikan bagaimana laki-laki perkasa kampung Bawömataulo beraksi. Khusus di Desa Bawömataluo, pelancong bisa menikmati sajian Tari Perang (Baluse) dan lompat batu (hombo batu), dua tradisi Nias yang amat terkenal itu. Dua tradisi ini sekarang kerap diperagakan khusus untuk menjamu para pelancong.”Diperlukan biaya jutaan rupiah untuk memperagakan tarian yang melibatkan para pemain yang jumlahnya mencapai 50 orang,” kata Hikayat Manaö kepada NBC sore itu di rumahnya.
Kini, meski masih berusaha mempertahankan keaslian bangunan, beberapa rumah di Bawömataluo sudah merubah atap rumah aslinya dari pohon rumbia menjadi atap seng. Kampung itu kini sudah dimasuki modernisasi dan penduduk sudah menikmati kemajuan teknologi.
Menjelang mentari terbenam di ufuk barat, kami pun bergegas meninggalkan Bawömataluo untuk kembali ke Gunungsitoli. Remaja laki-laki yang membawa kami menaiki tangga sudah berdiri di samping mobil. Setelah memberikan tip, tanpa tau berapa isinya, saya memasukkan ke kantongnya. “Saohagölö”, begitu ujar anak itu berterima kasih tanpa bertanya berapa uang yang saya masukkan. “Ya’ahowu”, kami mengangkat tangan dan mereka senang!
Dalam hati, terbersit kapan-kapan saya pasti kembali lagi ke Bawömataluo, bagaimana dengan Anda! Mungkin, menyaksikan pesta budaya yang akan digelar 13-15 Mei 2011 ini adalah sebuah kesempatan besar bagi Anda dengan hanya membayar tiket yang relatif murah. [JANNERSON GIRSANG]

Keunikan Budaya Nias-Sumatera Utara

 
Temu Pusaka Indonesia 2011 yang  diselenggarakan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia  (BPPI), pekan lalu, di Medan, menyisakan pengalaman yang sangat berarti bagi wakil Kepulauan Nias yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka mendapat  ilmu pengetahuan baru yang berguna agar pengelolaan budaya Nias lebih berkembang.
“Ini pengalaman yang sangat berarti buat kami. Dimana kami mendapatkan pembelajaran baru dalam pusaka,” kata utusan dari Museum Pusaka Nias, Lusi Telaumbanua dan Gratiano Telaumbanua kepada  NBC di Medan pekan lalu.
Rangkaian acara padat susunan panitia  Temu Pusaka Indonesia 2011, amat membantu mereka memahami sebeluk upaya  melestarikan dan mengembangkan pusaka daerah.
“Sejak hari pertama, ketika di Grand Aston, kita dapat memahami bagaimana cara meletakkan koleksi yang baik. Tata letak ini sangat perlu untuk diterapkan, agar tidak ada kesan monoton dalam tampilan yang kita sajikan nantinya di Museum Pusaka Nias,” ujarnya.
Pemahaman makin bertambah saat berkunjung ke  Pulau Samosir. Di sini ilmu yang mereka dapat adalah bagaimana  cara untuk mendatangkan tamu atau wisatawan, termasuk  bagaimana masyarakat dan Pemda Samosir dalam menyambut tamu. Mereka pun menyaksikan cara penyambutannya dengan nama beras sipir ni tondi dan mengucapkan kata horas kepada  tamu yang datang. Ucapan sambutan itu tak beda jauh dengan cara orang Nias mengucapkan  kata Ya’ahowu dan tradisi memberikan sirih.
Dalam  perjalanan selanjutnya rombongan Nias merasa tertarik pula pada bagaimana promosi bagi Tjong A Fie Mansion di  kota Medan.  “Bagaimana agar budaya itu bisa dipromosikan dengan brosur, website hingga masyarakat lebih tahu apa yang akan dapat mereka saksikan ketika di suatu tempat yang akan dikunjungi itu,” timpalnya.
Ketertarikan kedua utusan itu masih berlanjut lagi. Baik Lusi dan Tian panggilan akrab Gratiano, amat antusias menonton sajian video Medan Tempo Doeloe Dalam Bingkai Masa Kini  di Gedung Bank Indonesia.
“Saya sangat tertarik dalam penyajian video Medan Tempo Dulu, bagaimana ya cara mereka mengemasnya hingga sangat bagus. Saya pengen belajar juga,” tutur Lusi mengomentari karya Ad Box Creative House itu.
Di Museum Pusaka Nias, tidak ada dokumentasi video  seperti itu. “Kita bisa mencontoh bagaimana mereka membuatnya. Di  museum kita, dokumentasi video Nias tempo dulu tidak ada. Kami akan mempresentasikan dan share kepada pimpinan dan teman-teman yang mendukung keberangkatan kami ke BPPI, akan informasi yang kami peroleh selama perjalanan Medan-Samosir,” pungkasnya.
Lusi menimpali, setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri akan pusaka dan pengalaman ini merupakan pengalaman baru apa itu yang dinamakan pusaka alam dan pusaka saujana. “Setiap daerah bisa dibilang kebudayaannya itu gak ada yang benar-benar murni. Seperti bangunan Tjong A Fie Mansio, ada perpaduan Melayu Belanda, Kantor Pos Besar Medan memiliki ornament Belanda Melayu,” ungkapnya.
Seperti Nias, Lusi juga mengatakan ada kesamaan Nias dengan Yunani dan Tionghoa. Dimana dalam penyebutan selamat Nias-Yunani hampir sama dengan Ya’ahowu. “Sedangkan kesamaan Nias-China, mereka memiliki warna kuning, hitam, merah dan putih. Sedangkan Nias ada tiga warna yang mewakilinya seperti kuning, hitam dan merah. Namun belum ada penelitian tentang persamaan ini. Namun itu pun, kita sudah banyak tahu tentang budaya pusaka selama menjadi peserta BPPI ini,” tandasnya. [Khairudin Arafat]

Akhir Oktober, Populasi Manusia di Bumi Mencapai 7 miliar

SEOUL - Populasi dunia diperkirakan akan mencapai 7 miliar pada akhir bulan Oktober, demikian ungkap sebuah laporan terbaru.

pada akhir Oktober diperkirakan populasi dunia akan mencapai 7 miliar, naik lebih dari empat kali lipat dari 100 tahun sebelumnya, ungkap laporan dari firma Allianz Group.

Menurut laporan Allianz Group, populasi manusia di planet Bumi akan mencapai 7 miliar pada akhir bulan Oktober, dibandingkan dengan 1,65 miliar manusia pada satu abad lalu.

Untuk peningkatan jumlah populasi ini, wilayah Asia merupakan penyumbang terbesar. Asia memiliki jumlah penduduk total sekira 4,2 miliar, yang diikuti oleh Afrika sebesar 1 miliar dan Amerika Selatan sebesar 600 juta, ungkap laporan dari Allianz Group.

Sementara untuk kategori negara, China merupakan negara dengan jumlah populasi terpadat dengan 1,3 miliar jiwa, dan diikuti oleh India dengan 1,2 miliar jiwa.

Lalu untuk kategori kekuatan ekonomo, laporan Allianz Group menyebutkan bahwa tiga dari empat orang tinggal di negara berkembang.

Allianz Group juga menyebutkan bahwa populasi dunia akan mencapai 8 miliar jiwa pada tahun 2020 dan 2030. Pada tahun 2082 Allianz Group juga memperkirakan bakal ada 10 miliar jiwa yang memenuhi planet Bumi.

Accounting Journal

Saya menawarkan beberapa jurnal akuntansi diblog ini mudah-mudahan dapat menjadi jawaban bagi teman-teman yang lagi nyari jurnal buat persiapan buat TA ataupun Skripsi. Semoga bermanfaat...

Pastikan Arah Anda Jelas

suka gag suka yang pasti jika kita bepergian dan tidak jelas arahnya kemana pasti membuat kita jadi jengkel palagi klo yang ngajakin itu teman atau sahabat. Jangan sampai ayu ting-ting datang dalam pikiran anda. Soalnya Ayu Ting-ting bertahun-tahun nyari alamat gag jelas hehehehehe.... Nah, jangan sampai terjadi pada diri Anda dan saya. Untuk menghindarinya setiap mau melakukan perjalanan pastikan dulu kemana, mau apa dan lain sebagainya. Jangan sekali-sekali berpikir ntar gimana nanti aja kebawa angin tapi nanti giman klo gag jelas arahnya mau kemana sudah pasti menguras tenaga dan tentunya isi kantong tapi mudah-mudahan isi kantong sampah permen jadi terkuras juga gak jadi masalah hehehehe..

Kamis, 20 Oktober 2011

Budaya

Salah satu budaya yang masih kental dan melekat dalam setiap warganya adalah budaya Nias. Tidak tahu bagaimana melekatnya jangan kwatir sedikit akan saya bahas diblog yang baru belajar ini.. salam orang Nias Ya'ahowu !!