Temu Pusaka Indonesia 2011 yang diselenggarakan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), pekan lalu, di Medan, menyisakan pengalaman yang sangat berarti bagi wakil Kepulauan Nias yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka mendapat ilmu pengetahuan baru yang berguna agar pengelolaan budaya Nias lebih berkembang.
“Ini pengalaman yang sangat berarti buat kami. Dimana kami mendapatkan pembelajaran baru dalam pusaka,” kata utusan dari Museum Pusaka Nias, Lusi Telaumbanua dan Gratiano Telaumbanua kepada NBC di Medan pekan lalu.
Rangkaian acara padat susunan panitia Temu Pusaka Indonesia 2011, amat membantu mereka memahami sebeluk upaya melestarikan dan mengembangkan pusaka daerah.
“Sejak hari pertama, ketika di Grand Aston, kita dapat memahami bagaimana cara meletakkan koleksi yang baik. Tata letak ini sangat perlu untuk diterapkan, agar tidak ada kesan monoton dalam tampilan yang kita sajikan nantinya di Museum Pusaka Nias,” ujarnya.
Pemahaman makin bertambah saat berkunjung ke Pulau Samosir. Di sini ilmu yang mereka dapat adalah bagaimana cara untuk mendatangkan tamu atau wisatawan, termasuk bagaimana masyarakat dan Pemda Samosir dalam menyambut tamu. Mereka pun menyaksikan cara penyambutannya dengan nama beras sipir ni tondi dan mengucapkan kata horas kepada tamu yang datang. Ucapan sambutan itu tak beda jauh dengan cara orang Nias mengucapkan kata Ya’ahowu dan tradisi memberikan sirih.
Dalam perjalanan selanjutnya rombongan Nias merasa tertarik pula pada bagaimana promosi bagi Tjong A Fie Mansion di kota Medan. “Bagaimana agar budaya itu bisa dipromosikan dengan brosur, website hingga masyarakat lebih tahu apa yang akan dapat mereka saksikan ketika di suatu tempat yang akan dikunjungi itu,” timpalnya.
Ketertarikan kedua utusan itu masih berlanjut lagi. Baik Lusi dan Tian panggilan akrab Gratiano, amat antusias menonton sajian video Medan Tempo Doeloe Dalam Bingkai Masa Kini di Gedung Bank Indonesia.
“Saya sangat tertarik dalam penyajian video Medan Tempo Dulu, bagaimana ya cara mereka mengemasnya hingga sangat bagus. Saya pengen belajar juga,” tutur Lusi mengomentari karya Ad Box Creative House itu.
Di Museum Pusaka Nias, tidak ada dokumentasi video seperti itu. “Kita bisa mencontoh bagaimana mereka membuatnya. Di museum kita, dokumentasi video Nias tempo dulu tidak ada. Kami akan mempresentasikan dan share kepada pimpinan dan teman-teman yang mendukung keberangkatan kami ke BPPI, akan informasi yang kami peroleh selama perjalanan Medan-Samosir,” pungkasnya.
Lusi menimpali, setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri akan pusaka dan pengalaman ini merupakan pengalaman baru apa itu yang dinamakan pusaka alam dan pusaka saujana. “Setiap daerah bisa dibilang kebudayaannya itu gak ada yang benar-benar murni. Seperti bangunan Tjong A Fie Mansio, ada perpaduan Melayu Belanda, Kantor Pos Besar Medan memiliki ornament Belanda Melayu,” ungkapnya.
Seperti Nias, Lusi juga mengatakan ada kesamaan Nias dengan Yunani dan Tionghoa. Dimana dalam penyebutan selamat Nias-Yunani hampir sama dengan Ya’ahowu. “Sedangkan kesamaan Nias-China, mereka memiliki warna kuning, hitam, merah dan putih. Sedangkan Nias ada tiga warna yang mewakilinya seperti kuning, hitam dan merah. Namun belum ada penelitian tentang persamaan ini. Namun itu pun, kita sudah banyak tahu tentang budaya pusaka selama menjadi peserta BPPI ini,” tandasnya. [Khairudin Arafat]
“Ini pengalaman yang sangat berarti buat kami. Dimana kami mendapatkan pembelajaran baru dalam pusaka,” kata utusan dari Museum Pusaka Nias, Lusi Telaumbanua dan Gratiano Telaumbanua kepada NBC di Medan pekan lalu.
Rangkaian acara padat susunan panitia Temu Pusaka Indonesia 2011, amat membantu mereka memahami sebeluk upaya melestarikan dan mengembangkan pusaka daerah.
“Sejak hari pertama, ketika di Grand Aston, kita dapat memahami bagaimana cara meletakkan koleksi yang baik. Tata letak ini sangat perlu untuk diterapkan, agar tidak ada kesan monoton dalam tampilan yang kita sajikan nantinya di Museum Pusaka Nias,” ujarnya.
Pemahaman makin bertambah saat berkunjung ke Pulau Samosir. Di sini ilmu yang mereka dapat adalah bagaimana cara untuk mendatangkan tamu atau wisatawan, termasuk bagaimana masyarakat dan Pemda Samosir dalam menyambut tamu. Mereka pun menyaksikan cara penyambutannya dengan nama beras sipir ni tondi dan mengucapkan kata horas kepada tamu yang datang. Ucapan sambutan itu tak beda jauh dengan cara orang Nias mengucapkan kata Ya’ahowu dan tradisi memberikan sirih.
Dalam perjalanan selanjutnya rombongan Nias merasa tertarik pula pada bagaimana promosi bagi Tjong A Fie Mansion di kota Medan. “Bagaimana agar budaya itu bisa dipromosikan dengan brosur, website hingga masyarakat lebih tahu apa yang akan dapat mereka saksikan ketika di suatu tempat yang akan dikunjungi itu,” timpalnya.
Ketertarikan kedua utusan itu masih berlanjut lagi. Baik Lusi dan Tian panggilan akrab Gratiano, amat antusias menonton sajian video Medan Tempo Doeloe Dalam Bingkai Masa Kini di Gedung Bank Indonesia.
“Saya sangat tertarik dalam penyajian video Medan Tempo Dulu, bagaimana ya cara mereka mengemasnya hingga sangat bagus. Saya pengen belajar juga,” tutur Lusi mengomentari karya Ad Box Creative House itu.
Di Museum Pusaka Nias, tidak ada dokumentasi video seperti itu. “Kita bisa mencontoh bagaimana mereka membuatnya. Di museum kita, dokumentasi video Nias tempo dulu tidak ada. Kami akan mempresentasikan dan share kepada pimpinan dan teman-teman yang mendukung keberangkatan kami ke BPPI, akan informasi yang kami peroleh selama perjalanan Medan-Samosir,” pungkasnya.
Lusi menimpali, setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri akan pusaka dan pengalaman ini merupakan pengalaman baru apa itu yang dinamakan pusaka alam dan pusaka saujana. “Setiap daerah bisa dibilang kebudayaannya itu gak ada yang benar-benar murni. Seperti bangunan Tjong A Fie Mansio, ada perpaduan Melayu Belanda, Kantor Pos Besar Medan memiliki ornament Belanda Melayu,” ungkapnya.
Seperti Nias, Lusi juga mengatakan ada kesamaan Nias dengan Yunani dan Tionghoa. Dimana dalam penyebutan selamat Nias-Yunani hampir sama dengan Ya’ahowu. “Sedangkan kesamaan Nias-China, mereka memiliki warna kuning, hitam, merah dan putih. Sedangkan Nias ada tiga warna yang mewakilinya seperti kuning, hitam dan merah. Namun belum ada penelitian tentang persamaan ini. Namun itu pun, kita sudah banyak tahu tentang budaya pusaka selama menjadi peserta BPPI ini,” tandasnya. [Khairudin Arafat]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar